Kondisi Pendidikan Indonesia: Peningkatan Kualitas dan Tantangan yang Masih Dihadapi

Pada tahun 2024, pendidikan Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, meskipun tantangan besar masih menghadang. Salah satu pencapaian yang patut diapresiasi adalah hasil survei PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam kualitas hasil belajar siswa Indonesia. Peringkat Indonesia dalam survei internasional ini naik 5 hingga 6 posisi dibandingkan dengan PISA 2018, sebuah indikator positif yang menunjukkan perbaikan dalam kualitas pendidikan nasional.


Survei PISA yang diadakan setiap tiga tahun sekali ini mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama: literasi membaca, matematika, dan sains. Dalam hasil PISA 2022, Indonesia menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, meskipun peringkatnya masih berada di posisi 68 dari 80 negara yang disurvei. Peringkat Indonesia dalam literasi membaca, matematika, dan sains masing-masing meningkat 5, 5, dan 6 posisi. Peningkatan ini merupakan hasil dari upaya pemerintah dan lembaga pendidikan dalam memperbaiki kualitas pengajaran dan mempersiapkan siswa agar lebih siap menghadapi tantangan global.

Meskipun Indonesia mengalami peningkatan yang positif, hasil tersebut tetap menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara maju. Oleh karena itu, meskipun ada perbaikan, peringkat Indonesia yang masih rendah menjadi indikator bahwa banyak hal yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan nasional untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain yang lebih maju dalam hal kualitas pendidikan.

Meskipun Indonesia mencatatkan kemajuan dalam kualitas hasil belajar, tantangan besar lainnya yang harus dihadapi adalah masalah infrastruktur pendidikan. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah ruang kelas yang rusak berat meningkat sebesar 53% dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 2022, terdapat 7.771 ruang kelas yang rusak berat, namun pada tahun 2024 jumlahnya melonjak menjadi 11.951 unit.

Ruang kelas yang rusak berat ini tentu saja berpengaruh langsung terhadap proses belajar mengajar. Siswa yang seharusnya dapat belajar dengan nyaman dan fokus, terpaksa belajar dalam kondisi yang tidak ideal, yang pada gilirannya dapat memengaruhi konsentrasi mereka dan bahkan kesehatan. Hal ini menjadi kendala besar bagi upaya peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah tertentu, terutama di wilayah yang lebih terpencil dan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat.

Masalah ini juga menambah beban bagi pemerintah yang berusaha untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Meskipun telah ada berbagai program yang digulirkan untuk memperbaiki infrastruktur sekolah, jumlah sekolah yang membutuhkan perbaikan masih sangat banyak, dan perbaikan ini memerlukan anggaran yang cukup besar serta waktu yang lama.


Selain masalah infrastruktur, kualitas guru juga menjadi salah satu tantangan utama dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia. Meskipun banyak guru yang sudah berkompeten, namun masih banyak yang belum memiliki keterampilan mengajar yang sesuai dengan perkembangan zaman. Metode pembelajaran yang digunakan masih cenderung tradisional dan belum mengakomodasi kebutuhan siswa yang semakin beragam.

Kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas pengajaran yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, penting untuk terus meningkatkan pelatihan bagi para pendidik agar mereka dapat mengadopsi pendekatan-pendekatan pengajaran yang lebih modern dan berbasis teknologi. Hal ini akan membantu menciptakan siswa yang lebih siap untuk menghadapi tantangan di dunia yang semakin kompetitif.

Salah satu faktor yang turut mempengaruhi mutu pendidikan di Indonesia adalah sistem evaluasi yang belum berbasis data secara menyeluruh. Sistem pendidikan yang ada masih sering kali tidak mengintegrasikan data secara maksimal untuk memantau perkembangan siswa dan kualitas pengajaran. Padahal, dengan menggunakan data yang akurat dan terintegrasi, pemerintah dan lembaga pendidikan dapat mengidentifikasi kekurangan dalam proses pembelajaran dan segera mengambil langkah-langkah perbaikan yang tepat.

Sistem evaluasi yang berbasis data juga dapat membantu merancang kebijakan pendidikan yang lebih efektif. Misalnya, dengan memanfaatkan data tentang capaian belajar siswa, kelemahan dalam kurikulum dapat segera diatasi, dan program-program pelatihan guru yang sesuai dapat dirancang untuk meningkatkan kualitas pengajaran.


Sumber:

Badan Pusat Statistik (BPS), 2024. “Statistik Pendidikan 2024”

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), 2024. “Perilisan Hasil PISA 2022”

Validnews, 2025. “Ruang Kelas Rusak Bertambah”

Journal on Education, 2024. “Membangun Pendidikan yang Berkualitas: Antara Idealitas dan Realitas”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *